Lakukan Kalibrasi Sprayer Jika Ingin Meningkatkan Efektifitas Pengendalian OPT

Lakukan Kalibrasi Sprayer Jika Ingin Meningkatkan Efektifitas Pengendalian OPT

Sprayer, tangki sprayer, tangka semprot, sprayer gendong (backpack sprayer), pompa sprayer, alat semprot adalah senjata utama para petani kebanyakan.  Tanpa alat ini maka penyemprotan pestisida tidak dapat dilakukan secara cepat, baik, tepat dan efisien.

Apapun jenis sprayernya, baik sprayer manual, sprayer elektik, sprayer mesin, sprayer micron herbi, boom sprayer dan lainnya maka kalibrasi sprayer menjadi bagian yang tidak boleh dilewatkan.  Jika kita menginginkan hasil semprotan dengan yang efketif.

Jika demikian pentingnya kalibrasi, maka perawatan alat semprot sprayer ini juga menjadi sangat penting.  Banyak hal-hal kecil dan sepele dalam perawatan sprayer ini yang dilewatkan oleh para petani.

Jenis dan Ragam Knapsack Sprayer

Alat semprot perstisida kini sudah banyak berkembang.  Jika dahulu sprayer (baca- alat semprot) didominasi oleh sprayer gendong manual yang terbuat dari logam (stainless), maka kini sudah banyak model sprayer yang terbuat dari bahan plastic, sehingga lebih ringan.

Teknologi pada knapsack sprayer juga berkembang.  Mulai dari sprayer elektrik dengan bantuan batrai, sprayer mesin dengan bantuan motor, boom sprayer dan sprayer sprayer drone yang sepertinya bakalan banyak dipakai di masa depan.

Semua jenis sprayer tersebut, dalam penggunaanya mengikuti kaidah dalam penggunaan pestisida Prinsip 5T.  Prinsip 5T adalah Tepat jenis, Tepat waktu, Tepat dosis, Tepat cara/aplikasi, dan Tepat sasaran.  Yang berkaitan dengan penggunaan sprayer dalam prinsip 6T tersebut adalah Tepat Cara/Aplikasi.

Agar tepat cara dalam penggunaan aplikasi pestisida, maka sprayer haruslah dilakukan kalibrasi sebelum penyemprotan dilakukan.

Pentingnya Kalibrasi Alat Semprot

Kalibrasi serta pengarahan teknis yang benar mutlak dilakukan.  Lakukan kaliberasi pada setiap jenis alat semprot, nozel, serta kecepatan jalan sebelum memulai penyemprotan atau pada waktu-waktu tertentu adalah mutlak dilakukan untuk setiap operator semprot, sehingga penggunaan herbisida menjadi efisien dan efektif.

Manfaat kaliberasi adalah untuk memperoleh :

  • Tingkat akurasi penyemprotan yang tinggi
  • Pengendalian yang efektif
  • Mencegah kontaminasi lingkungan..

Cara Kalibrasi Sprayer Manual

  1. Ukur lebar semprotan rata-rata (meter) (=A)
  2. Ukur jarak jalan (m) oleh operator selama 10 detik (=B)
  3. Ukur output semprot atau flow rate (Ltr/menit) pada tekanan pompa optimum (1 kg/cm²) (=C).

Menghitung kebutuhan volume semprot

Kebutuhan Volume semprot (Ltr/ha blanket) dapat dicari dengan rumus :

D= (10.000 x C) / ( 6 x B ) x A

atau

Ltr/ha = (10.000  x  ltr/mnt output) / (6 x jarak jalan m/10 detik) x lebar semprot (m))

Contoh perhitungan, diketahui :

  • A = lebar semprotan rata-rata adalah 1,5 meter
  • B = jarak jalan rata-rata adalah 8,0 meter per 10 detik
  • C = output semprotan rata-rata adalah 1,6 liter/menit
  • D = berapakah volume semprot (l/ha) ?

Volume semprot (D) = (10.000 x 1,6) / (6 x 8,0) x 1,5) = 222 liter/ha

Selanjutnya kebutuhan bahan herbisida untuk satu tangki alat semprot (Solo atau CP 15) yang berisi 15 liter dapat dihitung bila dosis herbisida telah ditentukan.

Contoh perhitungan :

Pemakaian Hebibisa Cropox 480 AS untuk penyemprotan alang-alang sheet membutuhkan dosis 6,0 liter/ha blanket, sedangkan volume semprot 222 liter/ha blanket.  Berapakah Cropox 480 AS yang dibutuhkan dalam volume 15 liter (volume isi tangki alat semprot)?

Kebutuhan Herbisida Cropox 480 AS = 15 liter x 6,0 liter / 222 liter = 405 ml

Cara Kalibrasi Drone Semprot

Kalibrasi drone pada dasarnya sama dengan menghitung volume semprot menggunakan sprayer punggung dan/atau pesawat terbang.

Menurut Panut (2019), menghitung kalibrasi drone dengan cara menghitung kecepatan terbangnya (bisa distel, tanya pada operator), hitung output/flow rate-nya (lihat di spesifikasi alat, bisa juga ditest secara manual), ukur lebar gawang/lebar semprotannya (seperti gambar di bawah).

Sesudah itu masukkan ke dalam rumus kalibrasi dibawah. Untuk menghitung volume semprot gunakan rumus yang dihitamkan.

F = (G x K x V) / 10.000

atau

V = (10.000 x F) / (G x K)

Dimana
F = Flow rate (liter per menit)
G = Lebar gawang (meter)
K = Kecepatan (meter per menit)
V = Volume semprot (liter per ha)

Sumber :

Image: Panut, Alishter, Khalfahrum; Artikel: Panut dan berbagai sumber

Cara Mematikan Pohon Kelapa Sawit Tanpa Menebang

Cara Mematikan Pohon Kelapa Sawit Tanpa Menebang

Berinvestasi dengan kelapa sawit semakin terlihat menjanjikan dalam jangka panjang. Pasalnya tanaman ini mempunyai usia hidup yang terbilang lama dan permintaan pasar akan minyak kelapa sawit pun kian meningkat. Hal tersebut lantas mendorong para investor untuk berlomba-lomba dalam menanamkan uangnya di sektor ini.

Salah satu kendala dalam membudidayakan kelapa sawit adalah tingkat produktifitasnya yang rendah. Permasalahan ini biasanya menimpa perkebunan rakyat yang kurang mendapatkan perawatan maksimal. Untuk mengatasinya, disarankan melakukan peremajaan perkebunan tersebut dengan mematikan pohon kelapa sawit tua dan menggantinya dengan kelapa-kelapa sawit muda.

Bagaimana cara mematikan pohon kelapa sawit tanpa menebangnya?

Berikut disampaikan metode mematikan pohon kelapa sawit tanpa menebangnya. Metode ini juga bisa dipakau untuk mematikan jenis pohon lain.

Metode I : Natrium arsenit (Na3AsO3)

Sebagian besar perusahaan kelapa sawit biasanya memanfaatkan Natrium arsenit untuk mematikan tanaman sawit yang tidak produktif. Buatlah lubang memakai bor pada batang kelapa sawit yang dimaksud dengan arah miring ke bawah sampai mengenai bagian inti.

Setelah itu, isi lubang tersebut menggunakan Natrium arsenit dengan dosis 20 cc/pohon. Kemudian tutup kembali lubang dengan menyumpalnya memakai serpihan kayu bekas bor. Apabilan serpihan kurang, Anda bisa menambahkan tanah untuk menutup lubang sampai benar-benar tertutup.

Perhatikan, karena Natrium arsenit mengandung racun yang sangat tinggi, jangan pernah sekalipun memanen buah yang dihasilkan oleh pohon yang telah diracuni.

Metode II : Herbisida Glifosat

Buatlah racun terlebih dahulu dengan mencampurkan 250 cc herbisida dan 10 liter air. Selanjutnya, buat lubang pada batang pohon sawit seperti pada metode pertama. Tuangkan cairan racun herbisida tadi ke dalam lubang batang sawit. Terakhir, Anda bisa menutup kembali lubang tersebut menggunakan serpihan kayu dan tanah.

Metode III : Herbisida Garlon

Metode mematikan kelapa sawit memakai herbisida berjenis garlon dilakukan melalui proses infus. Isi plastik es lilin dengan 2 sdm garlon lalu tambahkan air sampai memenuhi setengah volume plastik.

Langkah berikutnya, potong akar kelapa sawit yang masih hidup sebanyak 3-4 akar. Segera saja masukkan akar sawit yang masih basah ini ke dalam kantong plastik tadi, lalu ikat dengan tali rafia.

Disarankan pilih akar muda yang masih menempel di pohon agar kinerja racun lebih efisien.

Fungisida untuk Penyemprotan Penyakit Bawang Merah

Fungisida untuk Penyemprotan Penyakit Bawang Merah

Sebanyak 80% produksi bawang merah di Indonesia berasal dari Pulau Jawa dan hampir 50% terkonsentrasi di Jawa Tengah. Kabupaten Brebes merupakan sentra produksi bawang merah di Jawa Tengah. Rata-rata produktivitas bawang merah di Kabupaten Brebes mampu mencapai 12.14 ton/ha yang diperoleh dari 12 kecamatan salah satunya Kecamatan Brebes dengan rata-rata produktivitas mencapai 11.69 ton/ha.

Potensi bawang merah Indonesia sekitar 120.000 ha, dengan sebaran terluas terdapat di 10 provinsi adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Barat, Bali, dan D.I Yogyakarta.

Tabel

Penyakit Penting Pada Tanaman Bawang Merah

Berikut ini informasi mengenai hama dan penyakit penting pada tanaman bawang merah perlu diketahui untuk menentukan pengendalian yang tepat sasaran.

Hama penting yang menyerang tanaman bawang merah diantaranya orong–orong Gryllotalpa spp. (Orthoptera: Gryllotalpidae), ulat bawang Spodoptera exigua (Lepidopera: Noctuidae), ulat grayak Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae), lalat pengorok daun Liriomyza chinensis (Diptera: Agromyzidae) dan thrips Thrips tabaci (Thysanoptera: Thripidae).

Penyakit yang dapat menginfeksi tanaman bawang merah diantaranya bercak ungu (Alternaria porri), downy mildew (Peronospora destructor), bercak daun Cercospora (Cercospora duddiae), antraknosa(Colletotrichum gloeosporiodes), layu Fusarium (Fusarium oxysporum) dan nematoda (Dytylenchus dissaci) (Udiarto et al. 2005).

Trotol/Mati Pucuk (Alternaria porri)

  • Penyakit bercak ungu atau trotol disebabkan oleh cendawan Alternaria porri.
  • Patogen ditularkan melalui udara. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada kondisi kelembaban tinggi dan suhu udara rata-rata di atas 26o C.
  • Gejala serangan ditandai dengan terdapatnya bintik lingkaran berwarna ungu pada pusatnya, yang melebar menjadi semakin tipis. Bagian yang terserang umumnya berbentuk cekungan.
  • Tanaman inangnya antara lain ialah bawang merah, bawang putih, bawang daun, dan tanaman bawang-bawangan lainnya.

Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides)

  • Penyakit otomatis atau antraknos pada bawang merah disebabkan oleh dua jenis cendawan yaitu C. gloeosporioides dan C. capsici.
  • Kisaran inang C. gloeosporioides lebih luas daripada kisaran inang C. capsici, tetapi keduanya patogenik terhadap semua jenis bawang-bawangan seperti bawang merah, bawang putih, bawang bombay, dan bawang daun.
  • Gejala serangan ditandai adanya bercak putih yang melekuk ke dalam. Pada bagian tengah bercak terdapat kumpulan titik hitam yang merupakan kelompok spora.

Embun Bulu/Lodoh (Peronospora destructor)

  • Penyakit embu bulu atau busuk daun (downy mildew) disebabkan oleh cendawan Peronospora destructor yang menyerang tanaman bawang merah, bawang daun, dan bawang-bawangan lainnya
  • Patogen penyakit embun bulu ditularkan melalui angin.
  • Gejala serangan pada tanaman bawang merah ditandai daun berwarna pucat dan menguning. Bila udara lembab, daun yang terserang akan menunjukkan bintik-bintik berwarna ungu dan membusuk, sedangkan bila udara kering daun yang terserang akan menunjukkan bintik-bintik putih.
  • Kondisi optimum untuk perkembangan penyakit ini ialah pada suhu 15o C dan kelembaban tinggi terjadi selama 6-12 jam.

Penyakit layu fusarium

  • Penyakit layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum
  • Patogen ditularkan melalui udara dan air.
  • Gejala serangan ditandai tanaman menjadi layu, mulai dari daun bagian bawah.
  • Tanaman inangnya antara lain ialah buncis, cabai kentang, kacang panjang, labu, mentimun, oyong, paria, seledri, semangka, tomat, dan terung.

Penyakit Busuk Leher Akar (Botrytis allii)

  • Penyakit busuk leher akarl disebabkan oleh cendawan Botrytis allii
  • Patogen ditularkan melalui udara. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada kondisi kelembaban tinggi dan suhu udara rata-rata di atas 15-20oC, lahan yang becek dan lembab
  • Gejala serangan ditandai dengan leher tanaman melunak kemudian membusuk
  • Tanaman inangnya antara lain ialah bawang merah, bawang putih, bawang daun, dan tanaman bawang-bawangan lainnya.

Tindakan Pengendalian Penyakit Bawang Merah

Petani biasanya menggunakan fungisida dalam pengendalian penyakita pada bawang merah.  Petani biasanya melakukan pencampuran fungisida dan pestisida lainya karena pertanaman bawang merah diserang berbagai jenis OPT secara bersamaan.

Frekuensi penggunaan pestisida lebih intensif pada saat musim hujan dibandingkan musim kemarau. Hal ini karena pestisida yang telah diaplikasikan pada tanaman tercuci oleh air hujan sehingga aplikasi harus dilakukan lebih intensif agar tetap efektif dalam mengendalikan hama dan penyakit.

Beberapa bahan aktif fungisida kontak yang paling banyak digunakan adalah ziram 76% (ZIFLO 76WG), mankozeb, klorotalonil dan propineb.

Untuk mengatasi serangan sudah terlanjur meluas maka lakukan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif dimetomorf atau difenokonazol. Kemudian diikuti dengan penyemprotan fungisida kontak berbahan aktif ziflo selama 3 hari berturut-turut.

Setelah itu maka penyemprotan fungisida kontak bisa dilakuakn 3-4 hari sekali lalu penyemprotan fungisida sistemik setiap 10 hari sekali.

Keunggulan Fungsida Ziflo 76WG pada Tanaman Bawang Merah

Kini Ziflo 90WP sudah berubah menjadi Ziflo 76WG. Ziflo 76WG adalah bahan aktif ziram plus zinc dengan keunggulan yang tidak dimiliki oleh bahan aktif ziram lainnya.

  • Ziflo 76WG adalah satu-satunya di Indonesia dengan zirm yang original dari Taminco – Eastman Chemical
  • Ziram yang terkandung pada Ziflo 76WG memiliki keunikan jika dibanding dengan pendahulunya yaitu Ziflo 90WP.  Karena Ziflo 76WG bentuk formulasinya dalam bentuk granule (butiran halus) yang sangat mudah larut dalam air meski tanpa pengadukan.
  • Ziflo 76WG selain sebagai fungisida juga memiliki kandungan hara mikro Zinc (Zn) sebagai zat pengatur tumbuh (zpt) yang lebih besar dibanding dengan ziflo 90WG, sehingga meningkatkan proses pembentukan butir hijau daun (klorofil), sehingga daun bawang tetap hijau.
  • Ziflo 76WG memiliki butiran partikel yang halus, yang mudah larut dalam air dan mampu memberikan perlindungan (coverage) yang lebih baik dari Ziflo 90WP.
  • Efek perlindungan Ziflo 76WG dengan memberikan efek dempul atau membedak yang lebih baik pada permukaan daun bawang.
  • Karena partikel pada Ziflo 76WG lebih kecil, mudah larut dalam air sehingga tidak menimbulkan endapan atau mengendap pada tangki sprayer dan tidak menyumbat pada nozel (spuyer).
  • Ziflo 76WG memiliki daya rekat yang yang baik pada daun, sehingga tidak mudah tercuci oleh air hujan.
  • Ziflo 76WG aman terhadap pengguna, tidak berdebu, tidak mudah terhirup, tidak menimbulkan pedes (panas) di kulit, dan memicu kanker (karsinogen)

BACA JUGA: Spuyer Atau Nozzle Mempengaruhi Hasil Penyemprotan Hama Dan Penyakit

Sumber:

Cara Mengatasi Hama Wereng Pada Tanaman Padi

Cara Mengatasi Hama Wereng Pada Tanaman Padi

Hama Wereng

Ancaman gagal panen masih menghantui para petani padi. Kali ini, serangan hama wereng mengancam puluhan hektar padi yang sudah mendekati masa panen.  Petani mengeluhkan serangan wereng yang mengancam padi yang hampir panen. Hama wereng mengakibatkan batang padi mengering kemerahan dan bulir padi menjadi kopong tidak berisi.

Wereng coklat (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus yang menyebabkan penyakit tungro.

Jenis Hama Wereng

Terdapa dua jenis wereng yaitu wereng batang (plant hopper) dan wereng daun (leaf hopper).

Wereng batang (plant hopper) yaitu wereng coklat (Nilaparvta lugens Stal), wereng punggung putih (Sogatella furcifera Horv.).  Sedangkan  wereng daun (leaf hopper) yaitu wereng hijau (Nephotettix virescens Distant), dan wereng loreng/zigzag (Recilia dorsalis).

Wereng yang banyak menimbulkan masalah pada tanaman padi adalah kelompok wereng batang.

Kapan Hama Wereng Menyerang

Hama wereng batang coklat (WBC) menyerang tanaman padi ketika membentuk anakan dimulai oleh wereng bersayap panjang yang berpindah dari tempat lain. Jika wereng yang berkembang pada tanaman padi yang berumur 2 atau 3 minggu setelah tanam, maka WBC bisa berkembang biak menjadi dua generasi.

Tetapi jika wereng yang menyerang tanaman padi umur 5-6 minggu setelah tanam, wereng yang berkembang biak hanya satu generasi yang puncak populasinya terjadi pada padi umur 9-10 minggu setelah tanam.

Tanda-Tanda Serangan Wereng Coklat

  • Kuning, coklat dan tanaman sekarat : tanaman terbakar/gosong
  • Infeksi jamur dan bakteri pada tanaman
  • Embun madu dan jamur di daerah yang terinfeksi
  • Mengurangi pertumbuhan, kekuatan, dan tinggi tanaman, kemudian menyebabkan berkurangnya jumlah anakan produktif

Akibat Serangan Hama Wereng

Hama wereng cokelat merupakan hama laten, di samping merusak langsung mengisap cairan tanaman dengan alat mulut yang khusus untuk menusuk dan menghisap, juga sebagai vektor yang dapat menularkan penyakit virus.

Penyakit virus kerdil hampa (VKH) dan virus kerdil rumput tipe I (VKRT-1) yang ditularkan wereng cokelat terjadi pada 1970-an. Sejak 2006 wereng cokelat juga menularkan virus kerdil rumput tipe II (VKRT-11). Serangan virus kerdil rumput tipe II tersebut sudah meluas di sentra produksi padi di Pulau Jawa.

Kerusakan dan kehilangan hasil yang diakibatkan serangan wereng cokelat cukup tinggi. Pemeliharaan I dan 4 wereng cokelat/batang pada masa tanaman padi sedang bunting selarna 30 hari menurunkan hasil berturut-turut 20% dan 3 7~1.>. Pemeliharaan 4 ekor wereng cokelat/batang pada masa pemasakan buah selama 30 hari dapat menurunkan hasil sebesar 28%. Pemeliharaan I dan 4 ekor wereng cokelat/batang pada periode anakan selama 30 hari dapat menurunkan basil 35% dan 77%.

Cara Penyemprotan Mengendalikan Hama Wereng

  1. Pilihlah insektisida yang tepat sasaran. Insektisida yang tidak tepat sasaran hanya akan memperparah tingkat serangan hama wereng dan pemborosan tenaga dan uang. Gunakan insektisida yang kerjanya sistemik, kalau perlu kombinasikan pestisida yang kerjanya kontak dan sistemik.
  2. Sebelum penyemprotan sebaiknya sawah diairi setinggi mungkin agar hama wereng naik ke atas dan mudah disemprot.
  3. Jika tanaman padi tidak menggunakan sistem legowo dan tanaman terlalu rapat lakukan penyingkapan untuk membuat jalan sewaktu penyemprotan dan membuat ruang untuk menggeraknya nozel sprayer.
  4. Penyemprotan dilakukan dengan volume tinggi dengan maksud agar penyemprotan merata.
  5. Gunakan nozel sprayer yang menghasilkan kabut bukan yang mancur.
  6. Prioritaskan penyemprotan dilakukan pada pangkal batang bukan pada daun bagian atas.
  7. Lakukan penyemprotan secara bersama-sama (spray massal) agar hama wereng tidak berpindah ke sawah sebelah ketika disemprot.
  8. Jika memungkinkan gunaka miss blower karena akan lebih merata dan lebih cepat.

Insektisida Untuk Mengendalikan Hama Wereng

Insektisida paling ampuh untuk mengendalikan hama wereng adalah menggunakan kombinas i insektisida kontak dan sistemik.  Kombinasi penggunaan insektisida kontak dan sistemik akan membantu pembungker telur wereng dan pembunuh wereng dewasa.

  • Contoh merek insektisida sistemik adalah Oshin, Plenum, OBR, Cronus dll.
  • Contoh merek insektisida kontak adalah Darmabas, Baycarb, Mipcin, Poksindo dll.
  • Contoh merek insektisida pembungker telur wereng adalah Aplaud, Lugen, Ovista dll.
  • Gunakan insektisida merek Aplaud dan Darmabas/Poksindo untuk tingkat serangan hama wereng ringan.
  • Gunakan insektisida merek Aplaud dan OBR/Cronus untuk tingkat serangan hama wereng sedang
  • Gunakan insektisida merek Poksindo dan Oshin/Plenum untuk tingkat serangan hama wereng yang berat atau hampir membentuk spot.
  • Jangan sekali-kali menggunakan insektisida yang berbahan aktif piretroid sintetik seperti Fastac, Matador, Crown, Faster, Buldok, Decis, Starban, Fostin, Sidametrin dll karena akan memperberat serangan wereng walaupun ketika disemprot wereng terlihat jatuh dan mati.
Tanaman Padi Terkena Penyakit Kresek, Disemprot Apa ?

Tanaman Padi Terkena Penyakit Kresek, Disemprot Apa ?

Pada musim tanam sekarang ini banyak kita temukan penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB). Seperti terlihat pada gambar, tanaman terlihat segar, tapi coba turun dan amati.

Penyakit HDB merupakan salah satu penyakit utama tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryxae pv. Oryxae (Xo). Penyalit ini dapat menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman. Dari persemaian sampai menjelang panen.

BACA JUGA : PENYAKIT (BLAS)PATAH LEHER DISEMPROT FUNGISIDA APA

Penyebab Penyakit Kresk

Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terutama adalah kelembaban yang sangat tinggi akan memacu perkembangan penyakit ini. Oleh karenanya penyakit hawar daun bakteri sering muncul terutama pada musim penghujan seperti sekarang ini. 

Dari gejala yang muncul pada tanaman umur kurang dari 30 HST biasanya ditandai dengan munculnya daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat dan menggulung. Bahkan dalam keadaan parah seluruh daun layu dan mati. Serangan pada tahap awal ini biasanya banyak menyebut penyakit KRESEK.

Sedangkan gejala pada tanaman yang muncul pada fase anakan maksimal sampai pemasakan sering disebut dengan Hawar Daun Bakteri, ditandai dengan munculnya bercak abu-abu (kekuningan) pada tepi daun, kemudian bercak berkembang akan meluas membentuk hawar (blight) dan akhirnya daun mengering.

Pengendalian Penyakit Kresek

Untuk pengendaliannya apabila sudah diketahui bahwa varietas tersebut rentan terhadap HDB maka sejak awal harus dikendalikan dengan agens hayati Paenibacillus polimyxa pada umur 14, 28 dan 48 hst. dengan cara disemprotkan  konsentrasi 5-10 cc/liter air pada sore atau pagi hari. Namun bila upaya pengendalian tidak sejak dini dan pada menjelang fase generatif baru diketahui, bahkan gejala serangan telah meluas, maka menggunakan alternatif penggunaan pestisida.

Imunisasi pada tanaman padi merupakan inovasi baru dalam konteks perlindungan tanaman sedini mungkin. Hal ini berguna untuk mencegah terjadinya serangan hama penyakit terutana penyakit kresek dan blas yang terbawa oleh benih sekaligus memperkuat fungsi akar, batang dan daun sehingga tanaman mampu tumbuh secara optimal dalam memanfaatkan pupuk, iklim dan air.

Sehingga ditengah seringnya  cuaca ekstrim kita bisa pertahankan pertumbuhan dan produksi optimal.

Imunisasi kali ini menggunakan agensi hayati pasaran merk  Potensida yang lebih fokus pada pencegahan bakteri dan spora jamur yg terbawa oleh benih.  

Doble proteksi pengendalian kresek pada benih dan pembibitan, diharapkan menjadi ikhtiar terbaik untuk proteksi padi dini mungkin.

Penyemprotan Kresek Dengan Pestisida

Pestisida yang dapat digunakan untuk pengendalian penyakit kresek adalah dari jenis  Bakterisida dengan bahan aktif antara lain: Tembaga oksiklorida, kasugamicin, hidroklorida, streptomisin sulfat, oksitetrasiklin atau asam oksolinik.

Untuk merk dagangnya yang sudah banyak beredar antara lain: Kasumin 5/75 WP, Agrep 20 WP, Plantomycin 7 SP, Starmycin 20 WP, Bactocyn 150 AL, Kresek 150 SL, Stamer 20 WP. Kuproxat 345SC dan lain lain.

Selain dengan bakterisida, Kresek juga dibisa dicegah lebih awal dengan pengaplikasian fungisida kontak lebih awal. Fungisida yang bisa dipakai adalah fungisida dengan bahan aktif mankozeb, propineb, tiram, ziram dan lainnya. Merek dagangnya adalah Tiflo 80WG (tiram), Ziflo 76 WG (ziram), Antracol 70WP (propineb), Dithane (mankozeb), dan lainnya.

Penyakit Blas (Patah Leher) Disemprot Fungisida Apa?

Penyakit Blas (Patah Leher) Disemprot Fungisida Apa?

Penyakit blas leher juga sering disebut busuk leher, patah leher, tekek (Jawa Tengah), kecekik (Jawa Barat). Perkembangan parah penyakit blas leher infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen tular benih (seed borne).

Penyakit blas berkembang pada lingkungan yang kondusif. Penyakit blas daun berkembang pesat dan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit blas leher dapat menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa.

BACA JUGA : JAMUR ONCOM DISEMPROT FUNGISIDA APA

Mengenal Penyakit Blas

Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea dan Pyricularia orizae. Jamur tersebut dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Penyakit ini akan menginfeksi daun, buku dan leher malai tanaman padi dengan gejala terdapat Bercak hitam pada daun, busuk pada leher, malai patah dan biji hampa mencapai 70%

Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, P. grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun.

Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher/patah leher.

Gejala kerusakan :

  • Bercak berbentuk belah ketupat-lebar di tengah dan meruncing di kedua ujungnya.
  • Leher malai yang terinfensi berubah menjadi kehitaman dan patah.

Penyebab Penyakit Blas (Patah Leher)

Patah leher biasa disebut juga blas atau busuk leher, biasanya dapat menyebar melalui benih yang tidak berkualitas. Maka, ada baiknya sebelum menyemai, pilihlah benih padi yang sehat dan berasal dari varietas yang tahan terhadap serangan blas.

Jamur berkembang optimum saat tingkat kelembaban tinggi.  Pemupukan unsur N (nitrogen) dengan dosis tinggi pada saat musim hujan dapat menyebabkan jaringan daun lemah sehingga tanaman lebih rentan terserang penyakit blas.

Fase rentan pada fase persemaian, stadia vegetatif (blas daun) umur 30-50 hst dan stadia generatif (blas leher) umur 60-80 hst,

Pengandalian Penyakit Blas

Menjaga kebersihan lingkungan sawah dari gulma yang mungkin menjadi inang alternatif seperti rumput gajah dan membersihkan sisa-sisa tanaman padi yang terinfeksi merupakan usaha yang sangat dianjurkan mengingat patogen dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman.

Pengembalian pupuk kalium dan silika di tanah secara alami atau bantuan decomposer menjadi penting.  Tidak membakar jerami dapat menghilangkan unsur hara (N,P, K dan S) penting yang dibutuhkan termasuk mikro tanah terpengaruh kehidupannya. Pemberian jerami busuk tidak lantas bisa diserap langsung oleh tanaman, maka usaha memperbaiki lahan harus terus menerus dilakukan.

Pemberian bahan organik berupa jerami sisa panen untuk penyehatan lahan harus dikomposkan lebih dulu. Pengkomposan jerami dapat menyebabkan miselia dan spora jamur mati, karena naiknya suhu selama proses dekoposisi.

1. Penanaman Benih Sehat

Jamur penyebab penyakit blas dapat ditularkan melalui benih. Perlu dilakukan perlakuan/pengobatan benih dengan fungisida sistemik seperti trisiklazole dengan dosis formulasi 3-5 g/kilogram benih.

Pengobatan benih dapat dilakukan dengan cara perendaman benih atau pelapisan benih dengan fungisida anjuran.

2. Perendaman (Soaking) Benih

Benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam, dan selama periode perendaman, larutan yang digunakan diaduk merata tiap 6 jam.

Perbandingan berat biji dan volume air adalah 1:2 (1 kg benih direndam dalam 2 liter air larutan fungisida). Benih yang telah direndam dikering anginkan dalam suhu kamar diatas kertas koran dan dibiarkan sampai saatnya gabah tersebut siap untuk disemaikan.

Dikutip dari Majalah Tebar No 102 Edisi 15 Maret-15 April 2021, Dr Suryo Wiyono, ahli hama dan penyakit dari Departemen Proteksi, Fakultas Pertanian IPB menyarankan memperkuat daya tahan tanaman dari awal dengan imunisasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).

3. Cara Pelapisan (Coating) Benih

Pertama-tama benih direndam dalam air selama beberapa jam, kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida dengan dosis tertentu dicampur dengan 1 kg benih basah dan dikocok sampai merata, kemudian gabah dikering anginkan dengan cara yang sama dengan metode perendaman, selanjutnya benih siap disemaikan.

4. Cara Tanam

Jarak tanam yang tidak terlalu rapat atau sistem legowo sangat dianjurkan untuk membuat kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi patogen penyebab penyakit. Kemudian didukung dengan cara pengairan berselang (intermiten).

Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban sekitar kanopi tanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi serta menghidarkan terjadinya gesekan antar daun.

5. Pemupukan

Pertanaman yang dipupuk nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Jika ketersediaan pupuk kalium lebih rendah dibanding nitrogen maka penyaki blas menjadi ancaman. Pemupukan dengan pupuk kalium dan Silika menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit blas. Oleh karena itu, disarankan menggunakan pupuk nitrogen dan kalium secara berimbang. Pemberian nutrisi silika terbukti mampu memperkokoh batang tanaman padi sehingga tidak mudah terserang jamur blas.

6. Penanaman Varietas Tahan Blas secara bergilir

Peyemprotan Penyakit Blas Dengan Fungisida

Perlakuan benih dengan fungisida untuk pengobatan benih hanya bertahan selama 6 minggu, selanjutnya perlu dilakukan penyemprotan tanaman.

Hasil percobaan terhadap beberapa fungisida menunjukkan bahwa fungisida Benomyl 50WP, Mancozeb 80%, Tiram 80%, Ziram 76%, Carbendazim 50%, isoprotiolan 40%, dan trisikazole 20%, azoksistrobin 200 g/l + difenokonazol 125 g/l efektif menekan perkembangan jamur P. grisea.

  • Fungisida bahan aktif Benomyl 50WP: BENLOX 50WP, MASALGIN 50WP, SCHNELL 50WP
  • Fungisida bahan aktif Mancozeb 80%: POLARAM 80WP, MEGAZEB 80 WP, MANCO 80WP, CADILAC 80WP
  • Fungisida bahan aktif Propineb: ANTRACOL 70WP, MITRACOL 70WP, AGROKOL 70WP
  • Fungisida bahan aktif Tiram: TIFLO 80WG
  • Fungisida bahan aktif Ziram: ZIFLO 76WG
  • Fungisida bahan aktif Carbendazim 50%: TAFT 75WP, COZENE 70/10WP,
  • Fungisida bahan aktif Isoprotiolan 40%: ?
  • Fungisida bahan aktif Trisikazole 20%: BLAST 200SC, BLASTGONE75 WP, ENVOY 80WP, POPZOLE 525SE, RICESHIELD 75WP
  • Fungisida bahan aktif azoksistrobin 200 g/l + difenokonazol 125 g/l: AMISTARTOP, TANDEM 325SC, CORONA 325SC, ROLITOP 475SC

Penyemprotan dengan fungisida sebaiknya dilakukan 2 kali pada saat stadia tanaman padi anakan maksimum dan awal berbunga.

Referensi: berbagai artikel dengan penyesuain

You cannot copy content of this page