Jangan Menyemprot Pada Saat Cuaca Panas Dan Kering.  Ini Akibatnya.

Jangan Menyemprot Pada Saat Cuaca Panas Dan Kering. Ini Akibatnya.

Wilayah Indonesia terbentang dari barat sampai timur dengan variasi geografis.  Di indonesia bagian barat kelembaban lebih besar dari 50% tetapi di bagian timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur umumnya kelembaban udara kurang dari 50%.

Dalam satu hari biasanya yang paling panas antara jam 12 sampai dengan jam 2 siang.  Kadang suhunya vusa melebihi dari 31-32 derajat.  Jika melakukan penyemprotan pada jam tersebut, maka akan sia-sia belaka.

Baca juga: Lupakan Peranan Stomata Pada Waktu Penyemprotan Pestisida

Jangan menyemprot pada saat cuaca panas dan kering. 

Karena sebagian butiran semprot terutama yang harus akan menguap. Dan pada akhirnya jumlah total pestisida yang kita aplikasikan akan berkurang.  Pada akhirnya penyemprotan menjadi tidak efektif.

Alasan Jangan menyemprot pada saat cuaca panas dan kering

1.  Sebagian butiran semprot (terutama yang halus) akan menguap.

2.  Butiran semprot yang menempel pada tanaman pada daun akan cepat mengering.

3.  Jangan menyemporot pada saat cuara panas, karena akan terjadi fotolisis (fotodegradasi).  Degradasi pestisida, dekomposisi pestisida karena cahaya matahari.

Menurut J Reinhold kecepatan degradasi akan menigkat 2 kali setiap kenaikan suhu 10 derajat.  Kalau suhu naik 10 derajat, maka degradasi naik menjadi lipat dua.  Jika sudah terdegradasi, maka pestisida sudah tidak efektif lagi untuk tanaman karena sudah berubah menjadi zat-zat kimia lain yang tidak ada gunanya dalam upaya mengendalikan OPT pada tanaman kita.

4. Kalau menyemprot pada siang yang terik tentu tidak akan nyaman untuk bekerja. 

Efek Suhu Dan Kelembaban Terhadap Droplet.

Jika droplet mengering, yang tertinggal hanyalah kristal-kristal yang tidak lagi dapat diserap ke dalam daun/tanaman. Ini penting untuk pestisida yang sistemik, sistemik lokal, dan translaminar.   Karena jenis pestisida tersebut hanya dapat diserap tanaman jika dalam keadaan basah.

Itulah sebabnya dalam penyemprotan pestisida sistemik, sistemik lokal dan translaminar diupayakan droplet selama mungkin tetap berada diatas permukaan daun dalam keadaan basah.

Jika demikian berapa suhu ideal untuk penyemprotan?

Suhu udara yang ideal adalah tidak lebih 30 derajat.  Mengapa? Karena jika suhu terlalu tinggi atau dari 30 derajat maka droplet akan banyak yang menguap dan droplet yang menempel pada permukaan daun akan cepat mengering.

Droplet adalah butiran semprot adalah butiran halus dari cairan semprot yang keluar dari nozel

Kelembaban udara ideal adalah kurang dari 50%.  Jika udara terlalu kering, maka droplet menguap dan droplet cepat mengering. 

Jangan menyemprot saat angin terlalu kencang atau tidak ada angin sama sekali. 

Angin kencang akan menyebabkan butiran semprot diterbangkan oleh angin, dan yang mendarat dipermukaan daun tidak banyak atau akan jatuh ditempat lain yang tidak dikehendaki.  Distribusi dan distribusi kurang baik.

Kalau tidak ada angin sama sekali juga kurang baik.  Maka akan ada gerakan udara ke atas (termal atau termik) yang mungkin membawa uap pestisida dan masuk ke paru-paru aplikator, sehingga berbahaya untuk kesehatan.

Kecepatan angin ideal untuk penyemprotan adalah 3,6 – 6,5 km per jam.  Ditandai oleh daun bergerak-gerak ringan daun-daun kecil, tidak bergerak terlalu keras.  Bergerak tidak ke satu arah, dan asap bergerak membelok ke arah angin menuju.

Jika demikian berapa kecepatan angin yang ideal untuk penyemprotan?

Kecepatan angin yang ideal adalah 3-6 km per jam.  Pernyataan yang menyebutkan bahwa pada saat penyemprotan itu tidak ada angin.  Pernyataan terebut kurang tepat.

Idealnya angin tidak terlalu kencang.  Jika angin terlalu kencang maka:  distribusi dan liputan kurang baik. 

Angin yang terlalu kencang juga akan mengakibatkan drip (butiran halus penyemprotan atau droplet diterbangkan oleh angin).  Drip akan sangat berbahaya jika yang disemprotkan adalah herbisida yang bersifat kontak.  Meski drip tidak terlalu kerusakan pada tanaman tetangga, tetapi drip mengakibatkan mengurangi jumlah total pestisida yang disemprotkan pada bidang sasaran.

Kalau tidak ada angin sama sekali, maka distribusi dan liputan menjadi kurang baik.

Jangan menyemprot pada saat hujan 

Hujan juga akan mengakibatkan pestisida segera akan tercuci oleh air hujan dan hilang tidak menempel pada bidang sasaran.

Butiran semprot akan tercuci oleh air hujan dan hilang dari permukaan tanaman.  Butiran semprot yang tercuci akan mencemari lingkungan.

Jangan menyemprot saat embun masih banyak. 

Embun yang banyak sama saja dengan menambahkan air ke dalam larutan, konsentrasi penyemprotan akan menurun dan kemungkinan menambahkan volume semprot dan pestisida akan ke bawah menetes bersamaan dengan embun.

Petani Jangan Menyemprot Tanaman Dengan Pestisida Ini, Jika Tidak Ingin Rugi

Petani Jangan Menyemprot Tanaman Dengan Pestisida Ini, Jika Tidak Ingin Rugi

Petani jangan sembarangan menyemprot tanaman menggunakan pestisida.  Petani diminta teliti dan pandai membedakan mana pestisida palsu dan mana yang bukan.  Salah satu caranya adalah dengan melihat nomor pendaftaran dan kemasan.

Pestisida palsu dan pestisida ilegal tidak diketahui mutu dan efikasinya, akan sangat merugikan petani.   Petani sangat dirugikan karena harganya sama dengan produk asli tetapi kualitasnya rendah.  Seluruh usaha petani untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal akan sia-sia, karena hama dan penyakit tidak terkendali.  Panen tidak memuaskan.  Pada akhirnya kerugian berlipat-liat.

Tidak hanya petani yang dirugikan, tetapi juga produsen pestisida juga dirugikan karena terkait hak kekayaan intelektual termasuk diantaranya paten, hak cipta, hak desaihn industri, merek dagang, hak varietas tanaman dan indikasi geografis yang tiak kalah penting adalah menghambat ekspor komoditas hasil petanian sendiri karena dinilai terlalu banyak terpapr oleh residu pestisida.

Untuk beberapa negara tujuan ekspor komoditas pertanian Indonesia sangat perhatian terhadap MRL yaitu maximum residue limit.  Sehingga penggunaan pestisida palsu dan ilegal bisa mempersulit ekspor produk pertanian.  Pada akhirnya akan merugikan seluruh petani Indonesia karena negara penerima akan memberlakukan untuk seluruh produk pertanian dari Indenesia.

Kerugaian Akibat Penggunaan Pestisida Palsu

Penggunaan pupuk dan pestisida palsu dapat merusak struktur tanah rusak sehingga hasil produksinya turun.   Yang asli efektif, yang palsu ada kimia racikan yang malah membunuh organisme pengganggu tanaman baru.

Saat ini pestisida yang terdaftar di Kementrian Pertanian sejumlah 4.437 formulasi dengan rincian formulasi insektisida 1.530 formulasi, formulasi herbisida  sebanyak 1.162 dan sisanya sebanyak 1.745 formulasi terdiri dari fungisida, rodentisida, pestisida rumah tangga dan lainnya. (Sinar Tani, Edisi 10-16 April 2019 No 3794 Tahun XLIX).

Brebes Daerah Peredaran Pestisida Palsu.

Budidaya tanaman bawang merah tergolong usaha padat modal tinggi.  Petani perlu memerlukan modal biaya penanaman, biaya pemeliharaan, biaya penyemprotan tanaman hingga panen bisa mencapai Rp 150 juta per hektar.  Diantara komponen yang menyerap biaya tertinggi adalah biaya pengendalian hama dan penyakit.

Brebes adalah sentra produksi bawang merah di Indonesia.  Bawang merah memerlukan penyemprotan terus menerus agar bawang merah terlindungi dari serangan hama dan penyakit.  Bawang merah itu sangat rentan terharap serangan hama dan penyakit, seperti penggarek umbi, antraknosa, busuk daun, inul, dan lainnya.  Karenanya Brebes menjadi sasaran bagi pembuat dan penjual pestisida palsu.

Beberapa jenis pesitisda yang dipalsukan yang ditemukan di Brebes biasanya merek-merek yang sudah terkenal oleh petani.  Sehingga dalam penjualannya akan mudah dan cepat.  Biasanya yang mudah dipalsukan adalah formulasi pestisida dalam bentuk cair seperti herbisida, insektisida, dan fungisid cair.  Beberapa merek yang banyak ditemukan dipalasukan adalah merek Round Up, Score, Amistar, Amistartop, Starban, dan lainya.

Modus para pemalsu pestisida tersebut dengan cara membeli kaleng atau botol bekas, lalu diisi dengan yang palsu.  Untuk menjaga hal tersebut, sebaiknya petani menghancurkan botol atau kaleng bekas pestisida yang tidak terpakai.  Jangan dibuang sembarangan, karena khawatir akan diambil dan di isi dengan pestisida palsu.

Pestisida palsu dengan merek megafur 3GR sangat mirip dengan yang asli. Namun jika diteliti, pestisida palsu berbahan baku pasir yang diberi pewarna.

Kenali Ciri Pestisida Palsu

Petani harus mengetahui pestisida palsu sebelum menyemprot tanaman dengan memperhatikan kemasan maupun isi dari pestisida palsu. 

Panduan Singkat Anti Pemalsuan Pestisida dari Croplife Indonesia sebagai berikut:

  1. Perhatikan botolnya, apakah di belakang label ada bekas lem berwarna putih atau kuning?
  2. Apabila label terdiri dari dua lembar, cobalah buka lembar pertama dan bila tidak dapat ditempel lagi dengan mudah maka terindikasi pestisida tersebut palsu.
  3. Perhatikan labelnya baik-baik, apakah ada nomor batch?
  4. Perhatikan tutup botolnya, apakah ada bekas lem dan apakah menempel sempurna atau bahkan miring?
  5. Apabila dibuka, apakah menggumpal, warna cairan dan baunya berbeda?

Jika petani mendapatkan pestisida yang tidak memenuhi standar atau mencurigakan, langsung menghubungi pihak berwajib atau layanan hotline Croplife (24 jam) di 081316641363.

Insektisida Piretroid Tidak Boleh Disemprotkan Pada Tanaman Padi. Ini Alasannya.

Insektisida Piretroid Tidak Boleh Disemprotkan Pada Tanaman Padi. Ini Alasannya.

Piretroid (pyrethroids) merupakan senyawa kimia yang meniru struktur kimia (analog) dari piretrin (pyrethrine).  Piretrin sendiri merupakan zat kimia yang memiliki sifat insektisida yang terdapat pada piretrum.  Piretrum adalah kumpulan senyawa hasil dari ekstrak bunga jenis krisan (Chrysantemum spp).

Piretroid adalah senyawa insektisida dengan keunggulan jika diaplikasikan hanya memerlukan jumlah relatif sedikit saja.  Selain itu insektisida ini memiliki spektrum pengendalian yang luas, tidak persisten, serta memiliki efek melumpuhkan (knock down effect) yang sangat baik.

Kelemahannya dari senyawa ini ini adalah karena sifatnya kurang atau tidak selektif, maka tidak cocok untuk program pengendalian hama secara terpadu.

Jenis-Jenis dan Merek Pestisida Jenis Piretroid

Sampai saat ini, golongan Sintetik Pyrethroid sendiri terdiri dari 4 generasi yang sudah idipatenkan dan dikelompokkan, antara lain ;

  1. Generasi pertama diwakili oleh Alletrin
  2. Generasi kedua diwakili oleh Tetramethrin, Resmethrin, dll
  3. Generasi ketiga diwakili oleh Permethrin, Fenvalerate, dan Sifenothrin
  4. Generasi keempat yang marak beredar di pasar dan terbiasa kita gunakan, yaitu antara lain : bifentrin (Byfenthrin), sipermterin (Cypermethrin), lamda sihalotrin (Lambda Cyhalothrin), alfa sipermetrin (Alpha Cypermethrin), dll

Keunggulan dari insektisida piretroid adalah

  1. Mempunyai efek eksitasi (perangsangan) yang lebih akrab kita sebut efek flushing,
  2. Mempunyai efek knock down (bekerja cepat),
  3. Sebagai killing agent (berdaya bunuh tinggi), umumnya repellent (penolak),
  4. Toksisitas mamalia rendah,
  5. Penggunaan dosis rendah untuk apliaksi,

Kelemahannya insektisida piretroid adalah

  • Kelarutan dalam air rendah,
  • Pada beberapa generasi (terutama generasi ke 4) memiliki efek iritasi,
  • toksik terhadap ikan.

Cotoh merek insektisida golongan piretroid adalah :

Alfa sipermetrin

  1. ALCOVE 50 EC  PT Dalzon Chemicals Indonesia
  2. ARMY 30 EC  PT Bioworld Biosciences Manufacturing Industries
  3. BESTOX 50 EC  PT Bina Guna Kimia
  4. BUZZZTOX 50 EC  PT Bahtera Boniaga Lestari
  5. INTERCEPTOR 200 K  PT BASF Indonesia
  6. KEJORA 15 EC  PT Sari Kresna Kimia
  7. PASTO 15 EC  PT Deltagro Mulia Sejati
  8. RECOV 30 EC  PT Indo Pest Biochem

Alfa sipermetrin (alpha cypermethrin)

  1. ALTAC 15 EC  PT Indagro
  2. ALTRINE 30 EC  PT Indo Pest Biochem
  3. AMETHYST 40 EC  PT Maju Makmur Utomo
  4. SERUNI 5 WP  PT Maju Makmur Utomo
  5. STARMETRIN 100 EC  PT Excel Meg Indo
  6. ALCOREEN 100 SC  PT Dalzon Chemicals Indonesia
  7. FASCRON 500/50 EC  PT Santani Sejahtera
  8. KENFAS 100 EC  PT Kenso Indonesia
  9. TETRIN 36 EC  PT Petrokimia Kayaku
  10. TUGARD 160/10 EC  PT Deltagro Mulia Sejati
  11. LIVOPEN 200 LN  PT Unilever Indonesia
  12. ROYALSENTRY 0,58 LN  CV Mentari
  13. SANGKURDI 50 EC  PT Maju Makmur Utomo

Beta sipermetrin

  1. BETAFOG 15 EC  PT Tritama Wirakarsa
  2. BETAPRO 300 SC  PT UPL Indonesia
  3. CHIX 25 EC  PT Nufarm Indonesia

Klorpirifos (chlorpyrifos) + Sipermetrin (cypermethrin)

  1. CYPERBAN 590 EC  PT Multi Sarana Indotani
  2. BANKILL 600/60 EC  PT Santani Agro Perkasa

Alasan Insektisida Pitroid tidak Boleh Dipakai Pada Tanaman Padi

Insektisida peteroid kenapa tidak boleh di aplikasian pada padi untuk mengendalikan hama wereng, ulat, walangsangit karena piretroid tidak selektif. Insektisida ini akan membunuh semua musuh alami wereng.

Lupakan Peranan Stomata Pada Waktu Penyemprotan Pestisida, Ini Sebabnya!

Lupakan Peranan Stomata Pada Waktu Penyemprotan Pestisida, Ini Sebabnya!

Stomata (tunggal: “Stoma” yang berarti mulut) merupakan bukaan-bukaan kecil pada daun yang apabila terbuka secara maksimal hanya selebar 0,0001 mm.

Singkatnya stomata adalah mulut daun yang merupakan komponen sel epidermis pada daun.

Pada tumbuhan darat, letak stomata banyak ditemukan pada bagian bawah daun, sedangkan pada tumbuhan yang hidup di air stomata banyak ditemukan pada permukaan atas daun. Jumlah stomata per mm² berbeda-beda pada setiap tumbuhan.

Stoma adalah bentuk tunggal dari stomata yang berfungsi sebagai organ respirasi. Stoma mengambil CO2 dari udara untuk dijadikan bahan fotosintesis. Stoma juga mengeluarkan O2 sebagai hasil dari fotosintesis.

Apa Fungsi Stomata Daun?

Bagian dari tumbuhan ini merupakan sebuah bagian yang berperan penting dalam produksi atau ketahanan tanaman dari hama dan juga penyakit.  Stomata membuka dan menutup untuk mengeluarkan gas dari daun.   Karena mulut daun mempunyai fungsi sebagai pertukaran gas yang tumbuhan perlukan.

Fungsi stomata daun yang utama merupakan tempat bertukarnya gas yang tumbuhan diperlukan untuk proses fotosintesis.

Melalui stomata, CO2, H2O, dan juga O2 dapat keluar masuk untuk melakukan proses respirasi dan juga fotosintesis. Akan tetapi, stomata ini juga merupakan salah satu yang dapat menjadi jalur polutan masuk ke dalam tumbuhan.

Fungsi Stomata pada proses Fotosintesis

Melansir dari Wikipedia, mulut daun memiliki fungsi yang pertama untuk proses fotosintesis. Sementara itu, fotosintesis adalah sebuah proses tanaman dalam memproduksi makanan dengan menggunakan bantuan sinar matahari, air, dan juga CO2.

Dengan bantuan stomata, tanaman akan mengambil CO2 dari udara. Lalu, molekul air atau H2O akan terpecah menjadi Hidrogen (H) dan juga Oksigen (O2). Kemudian, melalui stomata pula akan melepaskan oksigen sebagai wujud produk sampingan di udara.

Dengan demikian, stomata atau mulut daun ini merupakan media pertukaran gas serta respirasi seluler yang ada pada tanaman.

Fungsi Stomata pada proses Transpirasi

Fungsi stomata daun yang kedua yaitu transpirasi. Transpirasi yaitu proses penguapan air (H2O) dari permukaan tumbuhan. Dengan transpirasi tersebut, dapat menjaga tumbuhan tetap dingin serta mentransfer bahan kimia seperti mineral dan lainnya ke semua bagian tanaman.

Pada saat tanaman mengambil air dari dalam tanah, stomata menyerap mineral yang lain. Kemudian, supaya tumbuhan bisa mengambil air dari dalam tanah, maka air harus menguap dari permukaan tanaman terlebih dahulu.

Jika sudah melakukan hal tersebut, maka tekanan akan memaksa akar untuk menyerap air tersebut dari dalam tanah serta memindahkan menuju ujung tanaman. Kemudian, melalui fungsi stomata daun ini, pekerjaan utama dari penguapan air telah berlangsung.

Apakah Stomata Berperan Pada Aplikasi Pestisida?

Baca juga : Bagaimana Cara Penyemprotan Pestisida yang Baik

Sumber: Panut Djojosumato

Lupakan fungsi stomata dan hubungannnya dengan penyemprotan pestisida. Karena penyemprotan pestisida pada tanaman atau daun tidak ada korelasi positif antara jumlah stomata dan jumlah pestisida yang diserap daun.

Kenapa? Karena stomata bukan rute penting untuk penyerapan pestisida.

Hubungan Stomata dengan Waktu yang Tepat untuk Penyemprotan Tanaman?

Kaitannya dengan waktu penyemprotan pestisida, kapan waktu tepat untuk penyemprotan tanaman? Menyemprot pagi atau sore? Mana yang lebih baik?

Lakukan penyemprotan pada sore hari. Apakah jika penyemprotan dilakukan sore hari bukannya stomata sudah menutup dan tidak bisa menyerap pestisida oleh tanaman.

Bila keadaan cuaca mengizinkan, saat ideal untuk penyemprotan adalah sore hari antara pukul 3 atau 4 sampai 5 atau 6 sore.

Karena pada saat itu suhu tidak terlalu panas dan bergerak menurun, kelembaban tidak terlalu rendah dan semakin mengarah ke malam kelembaban bergerak naik.

Tentu sore hari tidak ada embun sehingga penguapan kurang, droplet tidak cepat kering, fotodegradasi berkurang.

Namun kelemahannya sering hujan dan di daerah tertentu angin tidak mendukung dan waktu penyemprotan terlalu pendek.

Jika sore tidak memungkinkan maka menyemprot di pagi hari adalah pilihannya.  Waktunya berkisar antara pukul 7 sampai dengan 10 siang.   Jangan terlalu siang.  Jangan terlalu terik panas

Karena pada waktu tersebut suhu belum terlalu panas dan angin umumnya mendukung.  Sedangkan kelamahannya adalah suhu bergerak naik dan kelembaban udara cenderung menurun serta sering kalau masih pagi masih ada embun.

Sumber dan credit:

Drone, Era Baru Dalam Aplikasi Penyemprotan Pestisida

Drone, Era Baru Dalam Aplikasi Penyemprotan Pestisida

Di era modern yang sudah memasuki era industri 4.0, digitalisasi pun sudah merambah di bidang pertanian. Mekanisasi dalam pertanian sudah semakin maju. Mulai dari pemetaan wilayah, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, panen, hingga pasca panen.

Drone merupakan salah satu teknologi canggih berupa kendaraan udara. Bentuknya menyerupai pesawat terbang atau helikopter yang dapat dioperasikan tanpa dikendarai oleh awak atau pilot. Drone memiliki pilot yang tetap tinggal di daratan dan hanya memanfaatkan fasilitas remote control untuk mengontol drone di udara.

Drone dapat dihubungkan dengan satelit untuk mengatur atau men-setting luas dan arean lahan yang ingin diaplikasikan dengan pestisida. Sehingga tidak perlu semua  area lahan yang dilimiliki oleh petani disempot oleh pestisida. Hanya area tertentu saja yang terlihat rusak dan berpenyakit yang perlu disemprot oleh pestisida. Sehingga dapat menghemat waktu pengerjaan dan juga input pertanian.

Pengoperasian drone juga dapat diatur sedemikian rupa sehingga drone dapat memulai kembali pekerjaannya di titik ketika dia berhenti setelah pengisian ulang tangki. 

Pengembangan drone juga semakin meningkat di bidang pertanian. Dewasa ini, drone sudah mulai dikembangkan untuk mendeteksi keadaan dan kesuburan tanah serta pendeteksian kesehatan tanaman.

Drone dilengkapai dengan sensor, kamera, payload system, dan aplikasi lainnya yang mempermudah sekaligus aman untuk digunakan dalam berbagai fungsi seperti Pemetaan, Analisa, dan Penyemprotan.

Pada dasarnya drone sebagai alat peyemprotan tanaman dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) tidak berbeda dengan fungsinya alat penyemprotan lain seperti sprayer baik sprayer manual, sprayer elektrik, sprayer mesin (sprayer dengan tenaga penggerak mesin).  Hanya metode aplikasinya saja melalui udara atau aerial spraying.

Kesuksesan penyemprotan pengendalian OPT oleh drone dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu pemilihan jenis drone, jenis pestisida dan teknik aplikasi pestisidanya. 

Pengamatan populasi hama dan jenis-jenis hama yang ada di lapang juga dapat dilakukan menggunakan drone. 

Faktor yang harus diperhatikan Aplikasi Drone Pertanian

Secara umum ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada aplikasi penyemprotan pestisida dengan drone:

  • Peralatan yang digunakan (Pompa, Nozzle)
  • Pembuatan larutan semprot
  • Volume larutan semprot
  • Pencampuran pestisida
  • Pengaruh lingkungan (Suhu, Kec. Angin dan lainnya)
  • Arah Semprotan
  • Keselamatan Aplikasi
  • Pastikan peralatan semprot dalam keadaan baik dan tidak bocor
  • Pastikan peralatan semprot dalam keadaan bersih setelah digunakan
  • Pastikan peralaran semprot memiliki tekanan yang ideal (minimal 3 bar untuk knapsack dan 8-12 bar untuk penyemprot mesin)
  • Pastikan Nozzle dalam keadaan baik, sehingga cairan pestisida tidak terbuang dan tidak berbahaya bagi lingkungan.

Tingkat Keberhasilan Penyemprotan Pestisida Mengguanakan Drone

Keberhasilan penyemprotan pestisida terkait erat dengan teknik atau cara penyemprotan yang dilakukan, beberapa faktor penentu keberhasilan diantaranya yaitu :

Kecepatan Terbang

Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam penyemprotan pestisida adalah kecepatan terbanag drone. Harus dapat ditentukan berapa kecepatan terbang karena jika terlalu cepat, liputan hasil penyemprotan sangat jarang.  Jika kecepatan terbang terlalu lambat hasil penyemprotan menghasilkan lebih banyak drift.

Sebagai gambaran untuk penyemprotan manual dengan menggunakan sprayer gendong, kecepatan berjalan petugas penyemprotan untuk mendapatkan hasil yang baik adalah sekitar 6 km/jam.

Arah Angin dan Ketinggian Drone  pada Bidang Semprot

Tidak semua pengendalian OPT bisa dilakukan dengan mengggunakan drone.  Untuk pengendalian gulma, drone bisa dilakukan, terutama gulma pada hamparan lahan kosong.  Tetapi gulam pada tanaman yang sudah ada tanaman pokoknya drone tidak bisa dipakai.

Penyemprotan hama dan jamur dengan insektisida dan fungisida.  Untuk hama-hama dan jamur yang berada dibawah (seperti wereng) dan berada diketiak daun, penggunaan drone sepertinya kurang efektif.  Perlu dipertimbangkan penggunaan pestisida yang bersifat sistemik sehingga walaupun tidak mengenai atau kontak langsung dengan OPT tetapi racun masih bekerja dengan cara sistemik melalui jaringan tanaman.

Arah angin perlu dipertimbangkan agar hasil penyemprotan tidak sia-sia karena terbang terbawa angin.  Juga perlu memperhatikan ketinggian terbangnya dengan bidang sasaran.

Ketinggian terbang drone harus dipertimbangkan agar menghasilkan hasil semprotan yang optimal.  Jika terlalu tinggi kurang efektif dan jika terlalu rendah akan dihasilkan droplet (ukuran butiran semprot) yang besar sehingga terjatuh mengalir ke permukaan tanah.

5 Tepat Dalam Aplikasi Pestisida yang Menggunakan Drone

Tepat Sasaran Aplikasi

Tepat sasaran ialah pestisida yang digunakan harus berdasarkan jenis OPT yang menyerang.

Sebelum menggunakan penyemprotan menggunakan drone, langkah awal yang harus dilakukan ialah melakukan pengamatan untuk mengetahui jenis OPT yang menyerang. Langkah selanjutnya ialah memilih jenis pestisida yang sesuai dengan OPT tersebut.

Jenis pestisida sesuai dengan jenis hama tanaman diantaranya : Insektisida (mengendalikan hama/serangga), Akarisida (mengendalikan tungau), Fungisida (Mengendalikan fungi/cendawan), Bakterisida (Mengendalikan Bakteri), Rodentisida (mengendalikan tikus), Nematisida (Mengendalikan nematoda), Moluskisida (Mengendalikan siput), Herbisida (Mengendalikan gulma).

Tepat Jenis Pestisida

Suatu jenis pestisida belum tentu dianjurkan untuk mengendalikan semua jenis OPT pada semua jenis tanaman. Oleh karena itu agar dipilih jenis bahan aktif pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan suatu jenis OPT pada suatu jenis tanaman. Contoh untuk hama ulat, gunakan bahan aktif yang spesifik untuk mengendalikan ulat.

Tepat Waktu Penggunaan

Waktu penggunaan pestisida harus tepat, yaitu pada saat OPT mencapai ambang pengendalian. Penyemprotan pestisida dengan drone harus memiliki tujuan yang jelas sebagai berikut:

  • Preventif: aplikasi pestisida sebelum ada serangan OPT
  • Kuratif: aplikasi pestisida sesudah ada serangan OPT
  • Eradikatif: aplikasi untuk pembersihan bila ada ledakan OPT
  • Aplikasi sistim kalender: aplikasi pestisida secara berkala (misalnya seminggu sekali, dsb.), tanpa memperhatikan keberadaan OPT.
  • Aplikasi berdasarkan ambang pengendalian/ambang ekonomi: aplikasi pestisida yang dilakukan bila populasi hama atau intensitas serangan penyakit telah melampaui ambang tertentu.

Dalam hal waktu yang aplikasi penyemprotan dengan drone perlu mempertimbangkan waktu berikut:

  • Jangan menyemprot saat panas terik dan kering
  • Jangan menyemprot saat angin sangat kencang
  • Jangan menyemprot bila hari hujan atau akan hujan
  • Penyemprotan dilakukan bila embun pagi sudah hilang

Keadaan cuaca yang ideal untuk penyemprotan tadi umumnya adalah pagi hari antara jam 6.00 – jam 10.30 dan sore hari antara jam 15.00 – 17.00.  suhu udara < 30o C dan kelembaban udara 50-80%.

Tepat Dosis atau Konsentrasi Formulasi

Dosis atau konsentrasi formulasi harus tepat yaitu sesuai dengan rekomendasi anjuran karena telah diketahui efektif mengendalikan OPT tersebut pada suatu jenis tanaman.

Penggunaan dosis atau konsentrasi formulasi yang tidak tepat akan mempengaruhi efikasi pestisida dan meninggalkan residu pada hasil panen yang membahayakan bagi konsumen. Penggunaan dosis yang berlebihan juga akan menimbulkan resistensi hama atau patogen.

Berkaitan dengan ketepatan dosis dan konsentrasi aplikasi pestisida, beberapa acuan untuk diperhatikan adalah: hubungan dan imbangan antara dosis, konsentrasi dan volume semprot.

Pengertian takaran aplikasi pestisida

Dosis: jumlah pestisida yang dibutuhkan untuk pengendalian hama per satuan luas lahan (kg/ha, liter/ha, dsb.). Dosis banyak digunakan dalam aplikasi herbisida, aplikasi insektisida dan fungisida butiran, dsb.

Konsentrasi: dalam aplikasi dengan cara penyemprotan, kecuali dosis kita masih harus mempertimbangkan konsentrasi, yakni jumlah pestisida yang harus dicampurkan dalam setiap liter air (gram/liter; ml/liter, dsb.).

Konsentrasi banyak digunakan pada aplikasi penyemprotan insektisida dan fungisida Dalam penyemprotan harus dicari imbangan yang cocok antara dosis dan konsentrasi. Imbangan tersebut dipengaruhi oleh volume semprot

Kalibrasi Drone

Kalibrasi drone pada dasarnya sama dengan menghitung volume semprot menggunakan sprayer punggung dan/atau pesawat terbang.

Hitung kecepatan terbangnya (bisa distel, tanya pada operator), hitung output/flow rate-nya (lihat di spesifikasi alat, bisa juga ditest secara manual), ukur lebar gawang/lebar semprotannya (lihat slide 2).

Sesudah itu masukkan ke dalam rumus kalibrasi (slide 1). Untuk menghitung volume semprot gunakan rumus yg dihitamkan.

Sumber: Dari status FB Pak Panut Djojosumarto, September 2, 2019, dengan judul : Kalibrasi Drone

Tepat Cara Penggunaan

Pada umumnya penggunaan pestisida diaplikasikan dengan cara disemprotkan.  Penggunaan drone harus memilih OPT tertentu yang dapat diaplikasikan, karena tidak semua OPT dapat dikendalian dengan penyemprotan drone.

Tidak semua jenis OPT dapat dikendalikan dengan cara disemprot. Pada jenis OPT tertentu dan tanaman tertentu, aplikasi pestisida dapat dilakukan dengan cara penyiraman, perendaman, penaburan, pengembusan, pengolesan, dll.

Penggunaan Nozel yang Tepat

Tiap jenis nozel akan menghasilkan pola semprotan tertentu. Drone lebih cocok untuk menggunakan jenis nozel hollow con baik yang mempunyai satu lubang, 2 lubang atau lebih. Untuk menghasilkan butiran semprot yang merata pada bidang sasaran/ tanaman.

Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Drone dalam Aplikasi Pestisida

Keuntungan Penyemprotan dengan Menggunakan Drone

  1. Hemat; Mengurangi penggunaan pestisida yang berlebihan dan fokus pada masalah
  2. Cepat: 100x lebih cepat dibanding pengerjaan manual, sehingga masalah teratasi tepat waktu
  3. Terukur: Segala aktifitas terekam dalam data yang lengkap dan dapat dikirim dalam sekejap
  4. Efisiens: efisiensi dalam biaya operasional, penggunaan air, waktu pelaksanaan, penggunaan tenaga kerja
  5. Rendahnya drift hasil penyemprotan (dalam kondisi tertentu)

Kerugian Penyemprotan Dengan Menggunakan Drone

  1. Mahal, harga drone sangat bervariasi tergantung spesifikasinya.
  2. Tidak efektif jika digunakan perorangan dengan luasan minimal. Dan akan efektif jika gunakan secara bersamaan dalam kelompok tani.
  3. Membutuhkan landasan dengan luasan tertentu. Akan sulit jika diaplikasikan di tengah hamparan persawahan yang tidak memiliki landasan.
  4. Keterbatasan dalam waktu terbang, karena kapasitas batreinya.

Manfaat Penggunaan Drone untuk Penyemprotan Pestisida

Pengaplikasian teknologi di bidang pertanian sangat diperlukan. Teknologi drone di bidang pertanian dapat membantu mengaplikasikan atau menyemprotkan pestisida. Penyemprotan pestisida menggunakan drone menjadi lebih efektif dan efisien karena penyemprotan tanaman dapat lebih tepat dan lebih cepat 2–20 kali lipat dibandingkan dengan dilakukan oleh tenaga manusia, bergantung pada jenis dan kapasitas tangki drone.

Studi Kasus Penggunaan Drone Pertanian

Studi kasus penggunaan drone dai Koperasi Wawasan Tani  yang merupakan Spraying Drone jenis DJI dan  mampu menyemprot 0.6 ha lahan dengan kapasitas 10 liter pestisida atau pupuk. Satu petak (1.2 ha) lahan sawah perlu disemprot pestisida dengan dua kali pengisian ulang tangki. Kapasitas baterai drone dapat diisi ulang/charge sebanyak 3 kali. Satu kali pengisian baterai dapat digunakan untuk pemakaian 20 kali penyemprotan.

Dalam satu hari, lahan pertanian yang dapat diaplikasikan pestisida atau pupuk oleh  drone seluas 5 ha. Untuk 1 ha lahan diperlukan waktu sekitar 10 menit dalam melakukan penyemprotan menggunakan drone. Sehingga, waktu yang diperlukan untuk menyemprot 5 ha lahan hanya berkisar 50 menit.

Berbeda dengan penyemprotan konvensional yang akan memakan waktu 20 jam per 1 ha lahan. Adapun hasil pengujian yang dilakukan oleh Yudhana dan Wardani pada tahun (2017), penyemprotan yang dilakukan menggunakan quadcoper atau drone dengan luas area 1 ha membutuhkan waktu 12,5 jam sedangkan secara manual membutuhkan waktu sekitar 20 jam. 

Sumber: Hana Khoirunisa dan Fitrianingrum Kurniawati.  2019. Penggunaan Drone dalam Mengaplikasikan Pestisida di Daerah Sungai Besar, Malaysia,  Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat. November 2019,Vol 1 (1) 2019: 87–91

Jenis-Jenis Drone Pertanian Yang Dijual Di Marketplace – Bukalapak

DJI Agras MG-1P Drone Pertanian Penyemprotan MG1P

DJI AGRAS T16 Drone Disinfektan Drone Pertanian Drone Siram Pupuk

DJI MG-1 Drone Octocopter Buat Agribisnis Pertanian Perkebunan

Drone Mini Penyemprotan Lahan Pertanian Perkebunan 6 L TOPXGUN T406

Drone Penyemprotan Lahan Pertanian dan Perkebunan 10 L TOPXGUN T410

Drone Penyemprotan Lahan Pertanian Perkebunan 16 L TOPXGUN T416

Drone Pertanian Semprot DJI T16 Penerus Agras MG-1P

TOPXGUN T410 RTK Drone Penyemprotan Pertanian dan Perkebunan Agri

Suka Dengan Fungsida Mankozeb Biru? Cek Faktanya Disini

Suka Dengan Fungsida Mankozeb Biru? Cek Faktanya Disini

FUNGISIDA Mana yang Anda Suka?
MANKOZEB BIRU apa TIFLO 80WG?

Kegagalan panen akibat serangan jamur di musim hujan bisa mengakibatkan kerugian s/d 30% bahkan gagal panen jika terlambat pengendalian penyakit.

Pastikan kualitas produk yang Anda pakai itu bagus dan kandungan bahan aktifnya berkualitas.

Temukan bedanya kualitas kelarutan antara fungisida Mankozeb Biru dan TIFLO 80WG pada video dibawah.

Mau PANEN BAGUS kok Fungisidanya COBA-COBA! Gunakan TIFLO 80WG!

Keunggulan TIFLO 80WG

Keunggulan Tiflo 80WG yang tidak dimiliki oleh Fungisida kontak lain seperti Mankozeb, Propineb, Metiram, golongan EBDC lainnya.

  1. TIFLO 80WG dapat digunakan sebagai REPELENT (PENGUSIR) pada BURUNG dan TIKUS!  Pengusir burung yang sangat efektif pada saat umur padi mulai pengisian.  Pengusir tikus yang sangat efektif pada saat umur padi setelah tanam sampai dengan generatif.
  2. TIFLO 80WG dapat sangat efektif digunakan untuk merangsang pohon buah yang DORMAN (tidak berbuah) seperti pada tanaman jeruk, mangga, apel, dan lainnya.
  3. TIFLO 80WG dapat digunakan untuk mengendalikan SOIL BORNE FUNGUS – jamur yang ada di dalam TANAH.
  4. TIFLO 80WG dapat digunakan untuk SEED TREATMENT  – perlakuan benih sebelum tanam, untuk mengendalikan
  5. jamur yang terbawa benih.
  6. TIFLO 80WG memberikan perlindungan terhadap DAMPING-OFF (rebah batang pada kecambah benih).

Info lebih lengkap klik DISINI

 
You cannot copy content of this page